Pasca gempa bumi yang baru-baru ini melanda Mamuju, Indonesia, warga menuntut pertanggungjawaban dari badan penanggulangan bencana setempat, BPBD Mamuju. Gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter yang terjadi pada tanggal 15 Januari menyebabkan kerusakan luas di wilayah tersebut, menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka.
Namun, alih-alih langsung mendapat bantuan dan dukungan dari BPBD Mamuju, warga mengaku malah dibiarkan berjuang sendiri pasca bencana. Banyak yang mengkritik badan tersebut karena lambatnya respons dan kurangnya koordinasi dalam memberikan bantuan kepada mereka yang terkena dampak gempa.
Beberapa hari setelah gempa, warga melalui media sosial mengungkapkan rasa frustrasi dan kemarahannya terhadap BPBD Mamuju. Banyak di antara mereka yang berbagi cerita mengerikan karena terjebak di bawah reruntuhan selama berjam-jam sebelum bantuan tiba, sementara yang lain menyesali kurangnya kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan tempat tinggal.
Seorang warga, yang tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan, “Kami dibiarkan berjuang sendiri sambil menunggu bantuan tiba. Terjadi kekacauan, dan kami merasa ditinggalkan oleh lembaga yang seharusnya melindungi kami pada saat dibutuhkan.”
Menanggapi kritik yang semakin meningkat, BPBD Mamuju membela tindakannya, dengan menyatakan bahwa mereka kewalahan dengan besarnya bencana dan melakukan yang terbaik untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Namun warga berpendapat bahwa hal tersebut bukan menjadi alasan atas kelemahan lembaga tersebut dan mereka menyerukan transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar dari BPBD Mamuju.
Tokoh masyarakat setempat juga ikut menyuarakan tuntutan akuntabilitas dari lembaga tersebut. Mereka menyerukan penyelidikan independen terhadap respons BPBD Mamuju terhadap gempa bumi dan mendesak pemerintah mengambil tindakan cepat untuk mengatasi kegagalan yang terjadi.
Mengingat protes masyarakat, BPBD Mamuju berjanji untuk meninjau kembali protokol penanggulangan bencana dan meningkatkan mekanisme tanggapnya di masa depan. Namun, warga tetap skeptis dan menyerukan tindakan nyata untuk memastikan kegagalan tanggap bencana serupa tidak terjadi lagi.
Ketika warga Mamuju terus memunguti barang-barang bekas gempa, mereka kompak menuntut pertanggungjawaban BPBD Mamuju. Mereka menyerukan transparansi, kejujuran, dan tindakan cepat untuk mengatasi kegagalan yang terjadi selama peristiwa tragis ini. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah suara mereka akan didengar dan apakah perubahan yang diperlukan akan dilaksanakan untuk mencegah bencana serupa terjadi lagi.
