Warga di Mamuju, Indonesia sudah merasa muak. Setelah bertahun-tahun menghadapi dampak buruk bencana alam tanpa dukungan yang memadai dari badan penanggulangan bencana setempat, mereka memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri. Sebagai wujud persatuan dan tekad yang kuat, warga berunjuk rasa menentang kelambanan BPBD Mamuju dan menuntut perubahan.
Mamuju, kota yang terletak di Sulawesi Barat, sudah tidak asing lagi dengan bencana alam. Mulai dari gempa bumi hingga banjir, kota ini telah menghadapi banyak tantangan selama bertahun-tahun. Namun, warga semakin frustrasi dengan kurangnya respon dan bantuan dari BPBD Mamuju, badan penanggulangan bencana setempat yang bertugas mengoordinasikan upaya bantuan bencana.
Titik kritisnya terjadi baru-baru ini ketika hujan deras memicu serangkaian banjir dan tanah longsor di Mamuju, menyebabkan kerusakan luas dan membuat ratusan keluarga mengungsi. Meski situasi mendesak, warga harus berjuang sendiri karena BPBD Mamuju gagal memberikan dukungan dan sumber daya yang diperlukan.
Dipicu amarah dan frustasi, warga memutuskan untuk memobilisasi dan mengorganisir aksi unjuk rasa menuntut pertanggungjawaban BPBD Mamuju. Sambil memegang spanduk dan meneriakkan slogan-slogan, mereka berbaris di jalan-jalan Mamuju, menyerukan tindakan segera dan reformasi di dalam badan tersebut.
Salah satu penyelenggara aksi, Siti, mengungkapkan kekecewaannya atas kelambanan BPBD Mamuju. “Kami sudah terlalu lama menderita. Ini waktunya bagi kami untuk berdiri dan menuntut yang lebih baik dari pemerintah daerah. Kami berhak merasa aman dan didukung pada saat krisis,” katanya.
Aksi tersebut menarik perhatian media lokal dan pejabat pemerintah, sehingga memberikan tekanan pada BPBD Mamuju untuk mengatasi kekhawatiran warga. Sebagai tanggapan, badan tersebut mengeluarkan permintaan maaf publik dan berjanji untuk meningkatkan upaya tanggap bencana di masa depan.
Meskipun aksi unjuk rasa warga merupakan wujud aktivisme akar rumput yang kuat, perjuangan untuk perubahan masih jauh dari selesai. Warga kini berupaya untuk meminta pertanggungjawaban BPBD Mamuju atas janji-janjinya dan memastikan bahwa lembaga tersebut menepati komitmennya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Mulai dari kemarahan hingga tindakan, warga di Mamuju menunjukkan bahwa mereka tidak akan berpangku tangan jika keselamatan dan kesejahteraan mereka terabaikan. Seruan mereka untuk akuntabilitas dan reformasi berfungsi sebagai pengingat bahwa tindakan kolektif dapat membawa perubahan positif bahkan dalam situasi yang paling menantang sekalipun.
